Roma Tidak Dibangun Dalam Semalam

Selama dua tahun pertama perkuliahan adalah ladang pendadaran bagiku. Setiap bulan aku menyempatkan diri untuk ikut seminar beasiswa dan belajar hal-hal teknis seperti pembuatan CV dan motivation letter sembari aktif di komunitas kerelawanan dan organisasi lainnya. Pada masa ini pula, aku juga beberapa kali mendaftar program dan belum kunjung membuahkan hasil. Hingga akhirnya pada akhir semester 4, setelah melalui seleksi berkas dan interview, aku berhasil lolos di salah satu program exchange melalui GREAT Indonesia ke salah satu negara Eropa yang merupakan asal pizza, Italy. Program ini bernama 4EU&AS dan merupakan salah satu program exchange dari Erasmus+

Setelah mengurus visa Schengen dan hal-hal teknis lain terkait persiapan program akhirnya hari yang yang ditunggu-tunggu tiba. Kami berangkat dari Jakarta-Singapore-Amsterdam-Cagliari yang hampir memakan 1 hari sendiri. Banyak hal yang aku pelajari di program ini mulai dari intercultural learning, non-formal learning dan leadership. Kami juga mengunjungi kantor kementerian federal pendidikan dan kepemudaan Cagliari. Selama 9 hari musim panas disana banyak hal baru yang kurasakan. Menjumpai matahari yang baru terbenam pukul 9 malam, kota yang ramai hingga jam 2 malam dan pantai-pantai yang indah. 

Selang 2 bulan setelah kembali ke Indonesia, aku kembali lolos pada program lanjutan 4EU&AS. Kali ini venue kami berada di negara waffle dan coklat, dan merupakan jantung Uni Eropa, Belgia. Setelah mengurus visa, kami berangkat pada musim gugur bulan November. Salah satu impianku terwujud. Kala dulu hanya bisa melihat daun maple di sampul buku favorit, sekarang dapat melihatnya secara nyata.

Pergantian musim gugur ke musim dingin sudah sangat terasa saat aku barada disana dengan temperatur udara mencapai -2 derajat. Selama berada disana, kami merancang outline policy paper yang menjadi objektif besar kami. Kami juga melakukan kunjungan ke beberapa institusi Uni Eropa mulai dari European Commission, European Parliament hingga European Country Representative. Bagiku pengalaman yang paling membekas adalah kala bertemu dengan presiden parlemen Uni Eropa dan mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi bersamanya.

Pada bulan Maret, aku kembali mendapatkan beasiswa exchange dari Erasmus+ mewakili GREAT Indonesia. Kali ini, aku dipertemukan dengan negara yang menjadi impianku sejak di pondok, negara yang terletak diantara 2 benua, Turki. Pada awal bula Mei dikala bunga tulip berseri, aku berangkat bersama 3 teman lainnya dari Indonesia. Pada program dengan tema pendidikan inklusi ini, aku dipertemukan dengan banyak perserta dengan berbagai latar belakang, mulai dari advokat, dosen hingga kepala sekolah. Disini pula aku dipertemukan dengan berbagai pemahaman inklusi yang berbeda disetiap negara. Aku juga bersyukur memiliki kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah disana seperti Haghia Sophia dan Blue Mosque. 

Sebagaimana sebuah peradaban yang tidak dibangun dalam semalam, aku percaya bahwa untuk mencapai kesuksesan ada jalan yang harus dititi. Aku juga percaya bahwa skenario Allah yang indah itu ada bagi setiap makhluk-Nya, dan tugas kita adalah menjadi aktor yang selalu berusaha memantaskan diri agar diberi kesempatan menjadi aktor di epic scenes yang telah Allah persiapkan untuk kita.

Hafik Umarul Munir
Program KKI IAIN Salatiga Angkatan 2016

Jurusan Tadris Bahasa Inggris

Malas Tertindas, Lambat Tertinggal, Berhenti Mati.

  • Erasmus+ Youth Mobility and Training Program, 2019
  • 4EU&AS; Youth Iniative and Local Community Development, Italy, 2018
  • 4EU&AS; Youth Involvement in Policy Making Process, Belgium, 2018
  • Inclusive Adventure Education: From Theory to Practice, Turkey, 2019
  • EPIC Camp from RELO U.S Embassy, Bali, 2019
  • Training Course on Local Community Development in Malaysia, Malaysia, 2020