Bekal Istimewa Dari KKI Untuk Ke Malaysia

Menjadi mahasiswa program KKI adalah suatu memori yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Saya masih ingat betul hari-hari indah selama menjadi mahasiswa di program ini. Hari-hari yang dipenuhi dengan canda tawa, walaupun terkadang air mata juga ikut menetes. Selama 4 tahun saya belajar bersama teman-teman terbaik saya, melewati begitu banyak suka dan duka. Tugas yang datang silih berganti terkadang membuat kami enggan memejamkan mata dan menarik selimut walaupun waktu sudah menunjukkan larut malam. Berat? Tentu iya, tapi hal tersebut terbayar seketika kami mendapat apresiasi dari dosen dan juga teman-teman di kelas.  

Banyaknya kegiatan di luar kelas membuat kami semakin kaya akan pengalaman. Kami sangat senang ketika ada tamu dari luar negeri dan kami diberi kesempatan untuk berdiskusi dengan mereka serta menunjukkan salah satu budaya kebanggaan Indonesia, yaitu tari Saman dari Aceh. Ya, setiap mahasiswa KKI dituntut untuk menguasai salah satu tarian adat Indonesia, selain untuk menyambut tamu yang datang, ini adalah salah satu usaha kami untuk melestarikan budaya Indonesia.  

Mengajar di sekolah Indonesia di luar negeri menjadi kesempatan emas bagi kami untuk bisa menjajal kemampuan mengajar kami dengan bahasa asing. Saya mendapat kesempatan mengajar di Indonesian International School Yangon (IISY) yang menjadi salah satu sekolah Indonesia yang sudah menjadi sekolah internasional karena siswanya bukan hanya orang Indoesia, tetapi juga siswa asing. Oleh itu, bahasa resmi yang digunakan untuk proses belajar mengajar adalah bahasa Inggris.  

Art and Language Exhibition (ALE) merupakan acara yang kami tunggu-tunggu. Ini adalah acara drama berbalut seni yang pertama kali diselenggarakan oleh kami, mahasiswa program KKI 2010. Banyak yang kami lewati demi terlaksananya acara ini, terkadang kami harus lembur untuk latihan, keliling Salatiga untuk mencari persewaan baju dan alat-alat yang dibutuhkan, belajar editing dan lighting dan masih banyak lagi. Tak jarang kami juga berselisih paham satu dengan yang lain. Tapi ini semua justru membuat kami semakin mengenal satu sama lain hingga rasa kekeluargaan kami juga semakin erat hingga kami berhasil lulus dari program ini bersama-sama dengan hasil yang memuaskan.  

Setelah lulus dari program KKI, alhamdulillah saya berhasil mendapat beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi magister di Universiti Malaya, Malaysia dengan mengambil bidang studi Arabic Language Education. Hal ini tidak luput dari dukungan para pengajar saya selama di KKI serta bekal ilmu yang saya dapat selama di KKI.  

Saat ini, saya mendapatkan kesempatan untuk bergabung di kampus tercinta IAIN Salatiga sebagai salah satu pengajar bahasa Arab di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK). Di samping mengajar, saya juga mengikuti beberapa kegiatan lain seperti seminar, workshop dan beberapa International conference. Menulis artikel juga menjadi kegiatan lain yang saya lakukan di waktu senggang untuk mengasah skill. 

Teruntuk teman-teman yang saat ini sedang menempuh perjalanan di program KKI, tetaplah semangat. Saling menjaga, membantu dan mengingatkan satu sama lain bahwa kesuksesan tidak datang secara instan melainkan melalui usaha dan doa dari orang-orang terdekat kalian. Teruslah berjuang demi masa depan kalian dan kebahagiaan orang yang senantiasa mendoakan. Serta jadilah orang yang selalu humble dengan siapapun yang kalian jumpai.

 

Rizki Parahita Anandi, M.Ed (ALEd)

Program KKI IAIN Salatiga Angkatan 2010

Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

  • Dosen Bahasa Arab di IAIN Salatiga
  • Penulis buku Change for Exchange
  • Team Teaching Rumah Belajar ABi Salatiga
  • Wisudawan dengan predikat Distinction pada jurusan Arabic Language Education di University Malaya pada Oktober 2018
  • Penerima Beasiswa LPDP Luar Negeri tahun 2016 di Universiti Malaya, Malaysia
  • Wisudawan Berprestasi Akademik Tertinggi STAIN Salatiga dalam Wisuda STAIN Salatiga ke -33