Mendulang ‘KEKAYAAN’ Dari Program Khusus Kelas Internasional IAIN Salatiga

Tahun pertama menjadi perantau di Salatiga menjadi tahun yang cukup berat. Selain adaptasi dengan cuaca dingin yang mana bagi orang Solo tentu cukup menyiksa, tempat yang sebetulnya tidak menjadi tujuan untuk melanjutkan pendidikan –sebab pasca kelulusan saya berharap untuk bisa melanjutkan kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di kota Solo dengan mengambil jurusan yang saya idamkan sejak masih duduk di bangku kelas X Madrasah Aliyah, sayang sekali keinginan tersebut harus kandas dan diikhlaskan. Orang tua menginginkan saya menjadi guru agama. Pilihannya hanya satu Solo atau Salatiga. 

Yogyakarta tereliminasi karena rumor yang berkembang pada waktu itu Jogja identik dengan prostitusi di kalangan mahasiswa. Semarang konon menurut orang tua saya rentan tindak kejahatan. Terlepas dari alasan yang sebetulnya orang tua buat sendiri demi kebaikan anaknya. Entah restu orang tua cukup berpengaruh rupanya. Selain itu lamanya adaptasi bagi seorang introvert di tempat baru. Beruntungnya ada beberapa kawan sewaktu di madrasah aliyah bahkan menjadi teman satu kelas. Sedikit membuat nyaman tentunya. Meski demikian semuanya tetap berjalan sebagaimana mestinya. Sesuai rencana awal saya mengikuti seleksi masuk PKKI dengan dalih supaya bahasa yang sudah dipelajari di bangku pendidikan sebelumnya tidak hilang.

Selepas pengumuman dan resmi menjadi mahasiswa, kehidupan ternyata tak seperti ekspektasi diawal. SKS malaikat –begitu kami biasa menyebutnya, Art and Language Exhibition –kethoprak dwi bahasa yang harus dimainkan setiap angkatan di semester 3 dan 4, segudang agenda insidental, PPL-KKL di luar negeri yang menurut saya paling banyak menjadikan saya pribadi yang nasionalis dan lebih open minded sebab perjumpaan dengan orang besar selama sebulan di luar negeri –kala itu saya memilih Thailand sebagai Negara tujuan PPL-KKL serta kehidupan di ma’had al-jami’ah yang tak kalah dramatis menjadi kisah yang apabila ia berwujud manusia saya akan berkata ‘terima kasih telah menjadi bagian perjalanan hidup’. Meski pada waktu itu sesekali mengeluhkan beratnya hari-hari, harus diakui saya tumbuh dengannya dengan tempaan yang saya pikir menyebalkan kala itu.

Selama perkuliahan saya bukanlah mahasiswa aktif di kelas. Keterbatasan pikir, over-thinker, takut salah membuat saya menjadi mahasiswa yang suka cari aman alias memilih berdiam kecuali dosen meminta berbicara. Saya tetap seperti itu sampai menjelang akhir perkuliahan. Sempat ikut beberapa organisasi inta-extra kampus dan tetap menjadi pribadi yang mengikuti arus, berada di zona nyaman. Meskipun tetap mengikuti kegiatannya tapi ya sekadar ikut saja. Sampai akhirnya menjelang akhir masa perkuliahan seorang teman mengingatkan; kalau kita merasa lelah berarti ada sesuatu yang sedang kita perjuangkan, kalau nggak ya taulah, jangan terlena dengan zona nyaman. Dari situ saya mulai berpikir ulang, menata kembali mimpi yang sudah lama ditinggalkan.

Foto ketika berbagi pengalaman kuliah dan mengajar bersama Rasida FM

Ilmu yang Bermanfaat

Definisi ini saya pinjam dari nasihat dosen tahfidz, Bapak Agus Ahmad Suaidi, M.A. dalam perkuliahannya beliau pernah sedikit memberikan tadzkiroh tentang ilmu yang bermanfaat yaitu terpakainya ilmu kelak ketika sudah waktunya. Entah makna sesungguhnya yang beliau maksudkan apa pada waktu itu. Tapi saya menafsirkannya ilmu itu akan berguna kelak di kehidupan meski entah kapan. Tidak ada yang sia-sia. Dan saya sudah membuktikan ucapan beliau. Meskipun saya masuk jurusan Pendidikan Agama Islam, dengan menjadi mahasiswa International Class Program saya harus belajar nahwu, sharaf, grammar, TOEFL, IELTS. 

Pernah berpikir untuk apa sih? Meskipun sering para dosen mengatakan harus kuliah lagi pakai beasiswa dan beragam nasehat yang terdengar non sense di telinga saya. Ya karena saya nggak percaya diri dulu dan merasa semuanya tampak seperti tidak mungkin. Apalah saya dibanding teman-teman lainnya. Who knows? Takdir hidup membawa saya untuk mendaftar salah satu beasiswa yang diselengarakan oleh Kemenag di tengah persiapan untuk mendaftar LPDP. Ya niatnya hanya untuk mengetahui bagaimana proses seleksi beasiswa. Setidaknya sudah kenal medan lah. Dan ya, perjalanan terasa mudah. Dari seleksi tulis sampai wawancara tidak banyak kendala bahkan tidak ada. 

Kembali lagi ke kalimat pertama, ilmu yang saya dapatkan di waktu masih menjadi mahasiswa PKKI, ternyata ilmunya saya panen dipertengahan 2017. Saya diterima sebagai mahasiswa Program Studi Magister Interdisciplinary Islamic Studies konsentrasi Studi Disabilitas dan Pendidikan Inklusi tanpa membayar sepeserpun justru dapat uang saku tiap bulan yang berkali lipat gaji saya sebagai honorer di madrasah swasta. Meski sudah berstatus mahasiswa saya tetap mengajar demi menuntaskan janji untuk mengabdi di almamater. Keputusan kuliah di IIS UIN Sunan Kalijaga ini sebetulnya banyak yang menyesalkan karena linearitas jurusan dari pendidikan sebelumnya. Tapi toh sejak S1 saya belajar hal-hal yang tidak linear tapi justru menjadikan saya kaya pengalaman dan mampu melihat hal dari berbagai perspektif. Dan rasanya baik-baik saja sampai hari ini.

Foto ketika menjadi presenter di Indonesian Conference on Disability Studies and Iclusive Education 2018

Tumbuh dari Tempaan SKS Malaikat dan Rumitnya Birokrasi

SKS malaikat yang dulu sering saya keluhkan. Dosen yang banyak tuntutan meskipun sejujurnya itu hal baik yang memang harus dilakukan dosen kepada mahasiswa (mahasiswanya aja yang terlalu berpikiran negatif), rasanya harus menertawakan diri sendiri melihat bagaimana reaksi kebodohan saya kala itu. Andai seseorang tahu hikmah di balik semuanya. Quote andalan sesal memang diakhir, kalau diawal namanya pendaftaran. Satu hal yang masih saya ingat dan memang saya jadikan sebagai pengingat, pelajaran nahwu dan urusan kaidah Bahasa Arab kala itu diampu oleh Bapak Farid Abdullah. Karena ketidakmampuan saya menashrif, beliau spontan mengatakan jangan cuma bisa nyanyi lainnya juga harus bisa ­–pada waktu itu kelas dilaksanakan pasca ALE dan kebetulan saya berperan sebagai sinden. Sejak saat itu saya berjanji saya harus punya sesuatu lebih. Dan September 2017 saya dengan beliau satu ruangan untuk tanda tangan kontrak beasiswa. Terima kasih, Pak. Saya harus ditampar supaya keluar dari zona nyaman.

Selain akademik, keharusan mahasiswa PKKI untuk terlibat dalam urusan birokrasi kampus juga ambil bagian dalam proses tumbuhnya saya. Kesibukan dan rasa lelah karena harus berurusan dengan birokrasi yang cukup rumit –bagi saya kala itu, prosedur yang tak mudah dan mengharuskan keluar masuk rektorat untuk pengajuan dana maupun pertanggungjawaban penggunaan dana ALE dan kegiatan lainnya. Ternyata perkara yang saya anggap sulit kala itu, banyak memudahkan saya saat ini. Tidak gagap birokrasi dan urusan publik ternyata skill penting yang wajib dikuasai oleh seseorang baik yang terjun di instansi pemerintahan pun mereka yang tidak. Karena kita hidup di lingkaran ini.

Akhir tahun 2018 sembari tetap mengajar dan menyiapkan proposal tesis, saya mencoba mencari pengalaman dengan mengikuti seleksi CPNS dari Kementerian Agama. Sebetulnya niat utama ingin mencari pengalaman bagaimana alur atau pola pelaksanaan tes yang selalu menjadi pekerjaan idaman bagi sebagian orang ini. Dengan berbekal ijazah S1 dan niatan yang hanya ingin tahu tanpa mempersiapkan apapun, ternyata prosesnya mudah. Bukan maksud sombong ya ini, maksud saya adalah ingin menekankan betapa pengalaman berhadapan dengan banyak orang, tahu bagaimana birokrasi pemerintahan atau lembaga kerja yang menjadi tujuan kita serta pengalaman yang cukup di dunia akademik maupun non-akademik ternyata bekal yang paling dasar bagi seseorang jika ingin meraih kesuksesan di ranah apapun. Terlepas dari keberuntungan dan takdir dari Tuhan, pengalaman menurut saya harga mati. Dengannya manusia tumbuh, terbuka, bijak dan bisa memposisikan diri serta banyak hal positif lainnya. Dan saya merasa dimudahkan dengan semua itu. Jangan lihat perkara CPNS-nya saja lho ya, saya yakin di dunia kerja lainnya pun pengalaman adalah kunci.

Foto ketika menjadi presenter di Indonesian Conference on Disability Studies and Iclusive Education 2018

Berani Mengambil Peluang

Opportunity never comes twice. Setelah berdosa karena banyak melewatkan berbagai kesempatan selama menempuh pendidikan S1, pasca kelulusan, kesempatan apapun saya ambil. Saya menjadi orang ambisius di mata orang-orang. Padahal hanya melakukan usaha dua kali lipat lebih serius dibanding sebelumnya. Ya supaya tidak menyesal seperti sebelum-sebelumnya. Tapi kadang orang lain tidak tahu alasan mengapa orang-orang terkesan ambisius untuk mendapatkan suatu hal.

Keberanian ini juga didapat dari bagaimana orang-orang sekitar dalam meraih kesuksesannya. Cerita-cerita motivasi yang kerap saya dapatkan ternyata punya peran tersendiri. Dan semuanya hampir saya dapatkan dari para dosen dan alumni yang sering dihadirkan untuk berbagi pengalaman kepada kami di kelas. Mas Arif Rahman, Mas Nazil, Pak Hammam dan beberapa lainnya.

Kemudian apersepsi dari dosen di awal pembelajaran. Atau apresiasi kecil yang diberikan. Seperti yang dilakukan oleh Prof. Zakiyudin Baidhawy, beliau selalu bercerita bahwa kita harus percaya diri dengan usaha maksimal yang sudah kita lakukan. Terlepas hasilnya bukan urusan kita. Beliau selalu menegaskan sekalipun lulusan dalam negeri atau dari universitas yang ‘biasa saja’ tetap jangan merasa minder. Apresiasi beliau terhadap hasil kerja mahasiswanya bagaimanapun wujudnya, beliau tetap memberikan masukan yang membangun kepada mahasiswanya tanpa menjustifikasi. Relasi ini yang kemudian membuat saya pribadi merasa dihargai sehingga yang tadinya cenderung tidak percaya diri karena hambatan komunikasi yang saya miliki kemudian mulai berani bertanya dan mendiskusikan banyak hal dengan beliau.

Terlepas dari apa yang sudah diceritakan di atas, hal lain yang saya sukai dari Program KKI adalah relasi mahasiswa dengan dosen ketika di kelas. Saya pribadi merasa ada semacam kedekatan emosional yang terbangun antar dosen dan mahasiswa. Yang kemudian menjadikan perjumpaan dengan dosen di kelas seperti bertemu dengan orang tua sendiri. Mungkin karena jumlah mahasiswa yang tidak terlalu banyak juga jadi pembelajaran lebih intens dan lebih nyaman.

Menceritakan Program KKI rasanya tidak akan pernah selesai. Selalu banyak cerita menarik dan pembelajaran berharga.

Saat ini selain mengajar, saya sedang menyelesaikan tesis dan penelitian tentang Gerakan Difabel di Indonesia. Mudah-mudahan dapat terselesaikan pertengahan tahun ini dan dapat wisuda sesegera mungkin. Teruntuk teman-teman yang saat ini sedang berjuang menyelesaikan studi di Program Khusus Kelas Internasional lakukan hal terbaik yang kamu bisa dan jangan pernah membuang sia-sia waktuku. Hidupmu merugi jika tidak melakukan apapun. Keluar dari zona nyaman, awas jebakan, menyesal kemudian tidak enak rasanya. Kepada dosen, staff dan teman-teman yang sudah banyak membantu, terima kasih.

Hanifah Risti Aini, S.Pd

Program KKI IAIN Salatiga Angkatan 2012

Jurusan Pendidikan Agama Islam

Go with the thing that scare you the most because it will make you grow

  • Juara I LKTI Guru tingkat Kabupaten Kebumen 2020
  • ASN di MIN 4 Kebumen 2019
  • Presenter Indonesian Conference on Disability Studies and Inclusive Education 2018
  • Penerima beasiswa S2 Fresh Graduate Kemenag RI (sekarang namanya PMLD) 2017
  • Penerima beasiswa Data Print dua periode 2014-2015