The Power of Gap Year

Bismillahirahmanirrahiim…

Saya akan memulai tulisan ini dengan sebuah kalimat “keterlambatan menurut manusia namun tidak bagi Allah SWT”. Setelah selesai belajar di salah satu Pondok Pesantren di Jawa Timur pada tahun 2009, saya pulang ke kampung halaman untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya di kota Salatiga. Namun  sebelum masuk ke Perguruan Tinggi, saya harus menyelesaikan pengabdian mengajar di salah satu SD Islam swasta di Salatiga selama 1 tahun sebagai syarat pengambilan ijazah setara SMP dan SMA di Pondok Pesantren. Ada keinginan untuk melanjutkan kuliah disaat pengabdian mengajar karena ada beberapa Perguruan Tinggi Islam yang memang mengizinkan mendaftar tanpa ijazah bagi santri Pondok Pesantren pada saat itu. Tapi, saya urungkan niat untuk melanjutkan kuliah di tahun 2009 karena saya ingin fokus mengabdi mengajar. Mungkin beberapa orang menanyakan “sekarang kuliah di mana?”,  “kok nggak lanjut kuliah?”, “Ijazahnya belum bisa diambil?”, dan lain sebaginya.  Terkadang melihat teman-teman sudah mulai kuliah di universitas-universitas ternama ada sedikit rasa pesimis dan berbisik di dalam hati “apakah saya terlambat dengan usia sekarang?”. Namun semua rasa itu sedikit demi sedikit hilang dikarenakan betapa mengasyikannya mengajar di sekolah dasar melihat senyum, tawa canda, dan celotehan anak-anak membuat hari-hari saya lebih berwarna.

Pada tahun 2010 saya sudah menyelesaikan pengabdian dan ijazah sudah ada di tangan. Karena sudah menghabiskan selama 6 tahun di pondok pesantren saya memutuskan untuk kuliah di kampung halaman sendiri yaitu STAIN Salatiga. Alhamdulillah, saya diterima menjadi mahasiswa Tadris Bahasa Inggris. Pada saat di tengah-tengah kegiatan OSPEK ada pengumuman dibuka Program Khusus Kelas Internasional (PKKI) dengan kelebihan yang luar biasa salah satunya PPL ke beberapa negara Asia Tenggara. Bismillah, saya percaya diri untuk mendaftar  program KKI ini. Alhamdulillah, saya diterima bersama teman-teman lainnya yang lolos berjumlah 20 mahasiswa.

Selama di KKI, selain meningkatkan pembelajaran di kelas kami juga dilatih oleh Direktur KKI untuk meningkatkan beberapa keterampilan yaitu critical thinking, communication, collaboration, dan creativity. Seperti contohnya menyambut tamu dari dalam dan luar negeri, berkunjung ke beberapa tempat yang berhubungan dengan perkuliahan, dan menyusun acara besar seperti pertunjukan drama di Art and Language Exhibition (ALE). Bercerita tentang ALE,  saya adalah salah satu tokoh utama di drama wayang berbahasa Arab. Melihat antusias penonton saat itu adalah semangat kami menampilkan ALE perdana dari angkatan KKI pertama yang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Tepuk tangan yang meriah, bahkan para dosen sangat menikmatinya menghilangkan rasa Lelah, lapar, dan dahaga kami yang sedang berpuasa saat itu.   Menjadi profesional dalam segala hal selalu disampaikan oleh Direktur KKI, salah satunya ketika saya dan 3 teman saya menjadi pemakalah dengan materi tentang “The Wonderful of Indonesia”  di hadapan para tamu yaitu mahasiswa dari salah satu Universitas di Amerika Serikat pada saat penyambutan mereka di kampus.  Semua kami persiapkan secara detail mulai dari isi materi, ppt, durasi waktu, dan kostum pemakalah agar lebih percaya diri.

Semua kegiatan KKI yang saya alami menjadi bekal untuk menuju langkah selanjutnya. Setelah lulus dari PKKI saya melanjutkan studi saya di Universitas Negeri Yogyakarta dengan mengambil jurusan yang sama yaitu Pendidikan Bahasa Inggris. Selama proses S2 saya mulai tertarik dengan penelitian dan seminar. Saya mencoba untuk mengikuti conference pertama kali di UKSW  Salatiga pada tahun 2016 dengan judul “ Indonesia Technology Enhance Language Learning”. Kemudian, setelah cukup mendapatkan informasi selama mengikuti conference tersebut saya memulai memberanikan diri untuk berpartisipasi dalam conference di luar negeri yaitu di Penang, Malaysia dengan judul “ The 21st Century Classroom: ELT Practices and Innovation”pada tahun 2017. Sebelum pemberangkatan ke Malaysia semua sudah tertata rapi secara rinci seperti pengalaman saya dan teman-teman  ketika di KKI sebelum berangkat PPL ke Sekolah Indonesia Bangkok (SIB) Thailand. Persiapan sebelum presentasipun saya persiapkan secara detail mulai dari bahan presentasi, slide, microphone, pointer, dan memakai baju yang nyaman agar percaya diri dan audien bisa memahami apa yang saya sampaikan.

Setelah lulus dari program magister, saya melanjutkan pengabdian untuk mengajar di IAIN Salatiga di program studi Tadris Bahasa Inggris di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Di dalam beberapa kesempatan saya diberi amanah untuk mengajar di Program KKI. Setelah itu saya memutuskan untuk menikah. Selain mengajar, saya beserta suami juga aktif dalam kegiatan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di provinsi Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Kami saling membantu dan mendukung satu sama lain terutama dalam hal pembuatan penelitian sehingga kami bisa bersama untuk  berpartisipasi dalam beberapa acara seperti conference, seminar, workshop untuk bekerjasama dalam satu tim. Dalam hal ini tidak ada siapa yang terbaik dan siapa yang terhebat  because I am not a superwoman and he is not a superman but we are super team.

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa terlambat bukan berarti kita tertinggal tapi Allah telah menyiapkan sesuatu yang sangat luar biasa di depan sana. Tinggal kita yang menjemput hadiah terindah dari Allah dengan usaha dan doa. Jika saya langsung kuliah di tahun 2009 dan tidak fokus dengan pengabdian mengajar mungkin alur ceritanya akan berbeda. Saya tidak akan pernah menjadi mahasiswa KKI karena PKKI pertama kali dibuka pada tahun 2010 itu artinya saya adalah angkatan pertama KKI. Untuk teman-teman semua di Program KKI teruslah berjuang, cobalah sesuatu yang baru yang memberikan dampak positif bagi diri kalian. Jangan merasa rendah diri dan membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain karena kita punya tujuan masing-masing. Tidak ada kata terlambat karena semua berjalan pada waktu yang tepat.

Alif Karyawati, M.Pd.

Program KKI IAIN Salatiga Angkatan 2010

Jurusan Tadris Bahasa Inggris

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

  • Dosen Bahasa Inggris, IAIN Salatiga
  • Pemakalah di ITELL (Indonesia Technology Enhanced Language Learning) Conference “Can Technology Really Enhance Langauge Learning? Revisiting theoretical Practices, Universitas Ibnu Kholdun, Bogor, Tahun 2020
  • Anggota Indonesia Technology Enhanced Language Learning (ITELL)
  • Anggota Sesi Beragih Penerjemah Yogyakarta.
  • Peserta Sapa BIPA Jogja ke-4, Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta, tahun 2020.
  • Pemakalah di 2nd International Conference on Linguistics (IC-Lings); Arabic and English “Current Issues on Linguistics, Literature, Translation, and Language Teaching”, IAIN Surakarta, tahun 2019.
  • Peserta Pelatihan Penyusunan Silabus Berbasis SKL bagi Pengajar dan Calon Pengajar BIPA, Balai Bahasa Jawa Tengah, tahun 2019.
  • Pemateri English Camp, SMP Muhammadiyah Plus Salatiga, tahun 2017.
  • Pemakalah di The International Conference on Indonesian Islam, Education, and Science (ICIIES) The Prospects and Challenges in the East and the West, IAIN Salatiga, tahun 2017.
  • Pemakalah di The 8th Biennial International English Language Teaching Conference (iELT-CON 2017) Bayview Hotel, Penang, Malaysia, tahun 2017.
  • Pemakalah di ITELL (Indonesia Technology Enhanced Language Learning) Conference, UKSW, tahun 2016.
  • Penerima beasiswa MORA Scholarship 2015
  • Pengajar BIPA untuk siswa/i Aziztan Foundation School, Pattani, Thailand, di IAIN Salatiga, tahun 2015.
  • Peserta Indonesian Youth Dialogue Camp Semarang, tahun 2014.
  • Peserta PPL Luar Negeri di Sekolah Indonesia Bangkok, Thailand, tahun 2013.
  • Peserta Wirakarya Perkemahan ke-X Se-Indonesia Kontingen STAIN Salatiga, Ambon, Maluku, tahun 2011.
  • Peserta Peace Generation, Bandung, tahun 2010.